“Aku Suka Pacar Sahabatku”

“Tanpa sadar Aku mendekatkan wajahku kearah wajahnya, ini seperti terhipnotis medan magnet yang sangat kuat. Kenapa jadi begini!!! Kenapa aku jadi mencium dahinya..Apa-apaan ini.”

“Terima kasih sudah berkunjung ke toko kami, mampir kembali lain kali..hehehe..” ucap salah satu pelayan toko buku.

“…” raka hanya berlalu.

Aku pemuda umur 22 tahun, hari ini adalah malam tahun baru. Sahabatku berjanji akan mengenalkan pacarnya padaku. Aneh rasanya sahabat sendiri memiliki pacar, tapi sebagai sahabat yang baik seharusnya Aku bisa bahagia demi menyaksikan kebahagian sahabatku.

“Aaaaghh!! Lampunya mati!!” teriak seorang perempuan yang berdiri dibelakangku, seraya memeluk tubuhku didalam lift yang macet.

“Kamu manis sekali” kataku spontan.

“Eh!! Jangan dekat-dekat……………………………………………..TOLONGGG!!!! Ada buronan pemerkosa!!!!…………..TOLOOONG!!!!!!!!!” teriak kembali perempuan itu.

”De, tenang aja Kakak nggak mau macam-macam sama Kamu kok” kataku menenangkan.

”Hah! Apa…memangnya aku anak kecil?” kata anak itu dengan nada marah.

”Palingan Kamu kelas 3 SMP kan” kataku polos.

Tiba-tiba ”Maaf ya tadi ada perbaikan jadi liftnya berhenti sesaat” kata petugas lift.

”PLAAK” tamparan hangat mendarat dipipiku, ”Aku sudah kuliah semester 4!!” katanya seraya berjalan keluar lift.

”Woo…” seru orang-orang yang melihat Aku di tampar.

Sial cuma gara-gara Aku nggak tau berapa umurnya Aku kena tampar!!…memang malam tahun baru yang menyedihkan” batinku seraya pergi dari kerumunan orang yang berseru.

Sudah seminggu setelah kejadian memalukan didalam lift itu, Aku berharap tidak akan bertemu dengannya lagi. Karena jika bertemu maka akan Aku maki-maki perempuan itu. Kali ini suasana hatiku tidak mau diganggu dengan hal yang merusak mood.

“Beli bir aja deh biar hemat dan praktis…” gumamku.

“BEEP” suara bel, “Selamat Malam Toserba, ada yang bisa kami bantu?” sapa pelayan itu sangat ramah.

“Mbak Malboro Menthol satu” pesan perempuan itu.

“Maf ya tapi kami tidak menjual rokok pada anak dibawah umur” tolak pelayan muda itu dengan ramah.

“Mbak Saya itu bukan anak kecil, Saya sudah punya KTP” kata wanita itu dengan menahan emosi.

“Oh maaf tapi boleh liat KTPnya?” pinta pelayan tadi.

“Ada ini….” kata perempan itu seraya merogoh-rogoh tasnya, “Mampus…mbak KTP Saya jatuh diatas tempat tidur” kata perempuan itu panik.

“De jangan bohong…kecil-kecil sudah berani berbohong, gimana besarnya!!” maki pelayan itu yang sudah tidak sabar.

Tiba-tiba “Mbak sekalian bir sama Malboro Menthol, de sorry ya Kakak nyuruh kamu beli rokok diminimart….dia adik Saya yang sedang Saya suruh…berapa semuanya mbak?” kataku.

“Eh..anu..itu..sa” katanya terbata-bata.

“Ayo pulang” kataku seraya menyeretnya kearah gang yang lumayan sepi.

“KAMU MAU APA!!!….DENGER YA TADI AKU NGGAK BUTUH DITOLONG JADI AKU NGGAK UTANG BUDU APAPUN SAMA KAMU!!!!!!” katanya setengah berteriak kepadaku.

“Nih..” kataku seraya memberikan rokoknya, “Tadi kamu pesan inikan”.

“Loh dari mana Kamu tau?” tanyanya heran.

Senyumku simpul, “Suara perdebatan Kamu sama pelayan toko itu kedengaran sampai ke sudut-sudut toko” kataku.

“Ooh..makasih ya ini” katanya seraya menunjuk rokoknya, “Oh iya siapa namamu?” tanyanya padaku.

“Raka” jawabku tersenyum ramah.

“Fina, senang ketemu sa…” tiba-tiba ada sepeda motor lewat dengan kencang.

“AWASS!!!!” seruku seraya menarik Fina kedalam pelukanku, “sumpah ternyata dia cantik…matanya yang  jernih mukanya yang imut, dan bibirnya yang mungil”.

Tanpa sadar Aku mendekatkan wajahku kearah wajahnya, ini seperti terhipnotis medan magnet yang sangat kuat. Kenapa jadi begini!!! Kenapa aku jadi mencium dahinya..Apa-apaan ini.

“Eh! Maaf ya Aku sudah lancang” kataku segera melepaskan Fina dari pelukan, “Fin lebih baik Aku antar kamu sampai rumah, nggak baik kalau wanita dijalan sampai larut malam begini” saranku.

“Hhmm…boleh kalau Aku nggak merepotkan Kamu aja…” jawab Fina.

“Nggak kok…yuk naik” kataku seraya menyerahkan helem.

“KAMU TINGGAL DIMANA?” tanya Raka setengah berteriak karena sedang menjalankan motor.

“DI UJUNG JALAN!!” teriak Fina kuat.

Motor Raka terpacu cepat dan halus, Raka sudah terbiasa jalan dengan kecepatan tinggi. Maka dari itu Fina agak ketakutan dan berefek pada pegangan tangan Fina diperut raka yang makin kencang.

“Disini?” tanya Raka seraya membuka helemnya.

“Iya bener…makasih yah Kamu udah nganterin Aku” kata Fina, “Aku masuk dulu yah..met malam’ ucap Fina manja.

“Tunggu…” tangan raka menarik tangan Fina.

Tiba-tiba saja Fina yang tidak memiliki keseimbangan jatuh kedalam pelukan Raka, dan bibir Raka dan Fina berciuman. Damn!! Lumayan lama untuk dikategorikan ciuman tanpa sengaja, sekitar 3 menit.

“Zzrrak!!” suara jaket Fina yang mendorong Raka, “Maaf” kata Fina pelan.

“…Cuma mau bilang helemnya lupa dikembaliin..” kata raka agak kikuk.

“Oh..ini” balas fina dengan raut muka kikuk pula, “Masuk..” kata Fina terputus seraya langsung berjalan kedalam rumah.

Fina…aneh!! kenapa Aku kok jadi mikirin diya yah…astaga apa lagi sih yang ada dibenakku!” kata Raka seraya menyalakan mesin motornya.

“Oi ka…kenapa pagi-pagi udah bengong?!” kata Farel mengagetkan, “Udah makan belom?…temenin gw makan Ka” tarik Farel.

“Rel tapi kan mata kuliah pertama filsafat..” kata Raka menolak.

“Alaah udah lo udah pinter ini dalam hal filsafat…cepet-cepet lo mau liat sahabat terbaik lo ini mati kelaparan” ancam Farel.

“Ya udah Ok…cabut deh cabut..” kata Raka mengikuti langkah Farel kearah kantin.

“Rel gimana lo sama cewek lo kayaknya nggak ada kabar?” tanya Raka iseng seraya mengemut permen lolypop rasa strawberry.

“Gw ma dia baik-baik, dia lagi banyak kerjaan Ka jadi lo belom bisa gw ketemuin sama cewek gw..” kata Farel dengan mulut penuh, “..Eh, tapi kayaknya sabtu besok dia udah nggak sibuk lo bisa gw kenalin sama dia bro..” ucap Farel lagi.

“Waduh..lo kayaknya bangga banget sama cewek lo, sampe-sampe nggak sabar mau ngunjukin cewek lo ke gw” ledek Raka seraya tersenyum simpul.

“Yoi…abis dia tuh perfect banget gw aja kadang sampe ngerasa minder deket dia, lo bayangin aja dia cantik, baik, populer disekolahnya..yah sebelas duabelas sama lo lah..” kata Farel dengan mata berkaca-kaca karena kagum.

“Blah…lo terlalu mandang gw dewa Rel…lo juga populer dimata cewek sekampus, atlet basket dengan penghargaan terbanyak dari pemain yang lain..” kata Raka.

“Tapikan nggak sebesar nama lo dimata cewek” bantah Farel, “Si Dian aja sampe tergila-gila sama lo tuh walaupun udah ditembak berkali-kali..lo nya aja yang cuek” sambung Farel.

“Jiah dia bawa-bawa korban buat alasan…lo tuh yang terlalu sensitif, lagi dateng bulan Pak” kata Raka ngeloyor pergi.

“Kemana Ka?” tanya farel, “Tungguin gw nyet..” kata farel setengah berlari.

Hari pengumuman pacar Farel pada Raka pun tiba, Raka penasaran banget siapa sih yang bisa ngebuat atlet terkenal sekaligus sahabatnya itu jatuh cinta. Abis selama ini fans-fans Farel yang menurut Raka lumayan oke-oke aja nggak ada yang pernah dia pacarin, sekarang tipe kayak gimana yang bisa masuk ngobrak-ngabrik perasaan sahabatnya.

“Rel..sorry gw dateng telat tadi kena macet…” kata Raka terhenti.

“Ga apa-apa Ka, oh..Ka kenalin ini Fina cewek gw..” potong Farel.

APA!! ..Fina ceweknya Farel..” lamun Raka terkejut.

“Woi..kenapa lo terpesona yee liat cewek gw…hehehe, pinterkan gw milih cewek” kata Farel membuyarkan lamunan Raka.

“Hah! Oh, hai gw Raka temen berantemnya Farel, se..seneng bisa kenal sama lo” kata Raka agak terbata-bata.

“Nyet duduk canggung banget lo, oh ia gw nggak bisa lama-lama gw udah janji mau jalan sama Fina, nggak apa-apakan lo gw tinggal sendiri?” tanya Farel.

“Oh..iya nggak apa-apa kok ruk…lagian sebentar lagi gw ada part time jadi langsung cabut, have nice day ya…” kata Raka.

“Ok gw duluan yee..” kata Farel seraya pergi menaiki mobilnya.

“Duluannya Raka” kata Fina lembut.

“Oh iya…” balas Raka. “Buset deh ternyata si Fina tuh pacarnya Farel…mana gw sempet nyium Fina lagi…tapi kok kayaknya Farel nggak tau kalau gw ketemu sama Fina sebelumnya, apa Fina nggak cerita sama Farel…Pusing nih kepala” kata Raka diatas motornya.

“Oi Rel pagi-pagi udah nongol aja di kampus, ada angin apaan nih..apa lo lagi mabok..heheheh” ledek Raka dari arah belakang.

“Eh lo nyet, iya nih gw bingung si Fina mau ulang tahun..gw bingung harus ngasih apa ke dia ya nyet kira-kira” kata Farel dengan muka tekukan.

“Lah gampang selama ini dia pengen apaan?” tanya Raka.

“Nah itu dia specialnya Fina, dia bangsa orang yang nggak suka nuntut…dan sulitnya gw bingung mau kasih apa, gw kan baru pertama kali, jadi gugup gw” kata farel meringkuk.

“Lah..lo udah kayak mau ngelamar orang aja…sama aja ruk sama mantan-mantan lo selama ini, kasih bunga, boneka, coklat, atau apa kek yang penting barang-barang cewek” saran Raka.

Ya ampun sulit banget kayaknya Farel cari kado buat ulang tahun Fina, akibatnya Raka tumbal, mungkin diperbudak tepatnya buat temenin Farel keliling mall citos buat nyari hadiah yang unik dan lucu, tapi anehnya mall segede gaban begitu aja nggak ada yang membuat Farel tertarik buat dijadiin hadiah Fina.

“Heh setan!!! Kita udah ngelilingin citos ampir lima kali dari ujung ke ujung, masa satupun barang cewek nggak ada yang lo tertarik buat Fina..” kata Raka ngos-ngosan.

“Yah masalahnya bukan nggak pas buat hadiah Fina, tapi gw takut salah beli nyet…lo tau sendirikan kalo Fina tuh pake apa aja cocok maka dari itu kalo tuh barang yang gw pilih dia suka nah nong kalo dia nggak suka, bisa abis pamor gw didepan dia…” jelas Farel panjang lebar.

“Pokoknya gw nggak mau tau, jam 7 gw ada part time, jadi gw nggak bisa lama-lama disini..oh yee satu lagi, gw nggak bisa kerja kalau perut gw pelompong…jadi lo harus tanggung perut gw yang melompong Okey….” kata Raka nyerocos.

“Beres bos..lo mau makan apaan nyet? Pilih aja..ntar gw traktir deh nyet…” kata Farel.

“Pasta-pasta aja deh, buruan..” kata Raka memasuki resto pasta yang menunya lumayan menguras kantong.

“Hhmm…emang bawaan orok yeee masalah makannan mahal nggak bisa ditipu” ledek Farel.

“Hehehe..yoi” sambut Raka.

Setelah jam 6 pas Raka dan Farel berpisah, Raka langsung menuju ketempat kerjanya dikawasan kemang dengan memakai motor kesayangannya. Sedangkan Farel masih giat mencari barang-barang yang ok buat hadiah Fina.

“Woi Ka,, tumben gaya banget lo mau kerja” sapa teman kerjanya.

“Heh elo, iya biasa gw pengen tampil beda biar dilirik cewek-cewek..hehehehehe” kata Raka bercanda.

“Alah…lo gembel aja banyak yang nengok, apalagi rapih”.

Tiba-tiba “De…maaf kami tidak memperbolehkan anak kecil membeli rokok” kata teman Raka yang berada dikasir.

Apaan lagi sih ribut-ribut gitu…Fina??!” kata Raka kaget.

“Loh! Raka, kok kamu ada disini?” tanya Fina dalam keadaan kaget juga.

“Aku kerja disini,,,eh mau duduk sebentar buat ngobrol?” tanya Raka sopan.

“Boleh…Aku juga ada yang mau Aku bicarain” katanya memilih tempat untuk duduk. “Kamu temen Farel dari kapan?” tanyanya membuka topik serius.

“Dari SMA, kalo nggak salah waktu kelas satu, hhm…kamu bener-bener suka sama Farel Fin?” tanyaku tanpa sadar.

“I..i, iya, memangnya kenapa?” balas Fina bertanya.

“Oh, nggak apa-apa kok, cuma mau mastiin aja kalau perasaanku cuma perasaan yang bertepuk sebelah tangan” kataku dengan mimik sedih.

“S..sebenernya Kamu nggak seratus persen salah kok tentang perasaan Kamu ke Aku” kata Fina dengan malu-malu.

“Haa..kamu juga merasakan hal yang sama?…tapi..gimana sama Farel? Diakan sahabatku sekaligus pacar Kamu?” tanyaku bertubi-tubi.

“Aku..aku juga nggak tau Ka, Aku cuma ngikutin apa kata hati Aku aja..Aku juga bingung harus kayak gimana…tapi Aku nggak bisa bohong kalau kejadian belakangan ini udah jadi memory yang manis buat Aku” jelas Fina.

“…” Raka hanya terdiam terpaku.

“Mulai dari lift sampai puncaknya kemarin Kamu antar aku pulang” kata Fina lagi.

“Tapi…tapi kalau kita begini sama aja kita menghianati Farel!” kataku tegas.

“AKU TAU!!…aku tau, Akupun sama nggak mau ngcewain dia Ka, tapi sumpah! Kalau saja Aku bisa ngubah waktu lebih lambat deri sebelumya, aku akan buat kita bertemu duluan!!” kata Fina sedikit keras.

“Berarti satu jalan Kita yaitu harus MELUPAKAN apa yang sudah terjadi, anggap kita orang baru bertemu…mulai dari awal tanpa ada perasaan apapun….bisakan” saranku.

“Yah..mungkin Aku bisa…mungkin…” jawab Fina lemas.

Astaga!!!!!!…mana bisa gw bisa ngambil pacar sahabat gw sendiri, tapi gw juga nggak bisa berdiam diri ngeliat cewek yang gw suka diambil orang lain….hidup gw kok rumit-rumit banget sih….gimana perasaan gw nih….ANNJRIIIIT!!!!” batinku.

Raka mengambil cell phonenya didalam kantong celana jeans, iya memutar nomor seseorang. Beberapa detik kemudian ia membatalkan pemanggilan. Raka duduk terpaku kembali disudut kamarnya, detik demi detik berlalu, menit demi menit telah ditinggalkan, jam demi jam tlah lewat, Raka masih terdiam disudut kamarnya. Tiba-tiba Raka cepat-cepat mengambil cell phonenya kembali dan memutar nomor.

“TUUT”, “Halo Ruk gw udah dapet ide kira-kira cewek model Fina suka kado apa” kata Raka berbicara pada orang didalam cell phone. Raka akan terlihat dipaksakan membicarakan topik yang satu itu kalau langsung bertemu dengan Farel, jadi Raka memutuskan untuk membicarakannya melalui telephone saja.

“Jo..si Raka mana?” Tanya Farel didalam kelas.

“Tau, kayaknya nggak masuk”

Karena takut ketauan Farel Raka memutuskan tidak masuk kuliah untuk beberapa hari ini, ia sengaja menambahkan jam kerjanya untuk menyibukkan dirinya. Entah ini keputusan benar apa salah tapi hanya ini ide melupakan yang ada didalam otak Raka. Tapi tanpa sadar semua yang disekelilingnya malah mengkhawatirkannya.

“KRIIIIING” nada suara cell phone Raka berdering.

“Halo” sapa Raka.

“Hai, Ka ini gw Dian, lo kok nggak masuk-masuk kuliah?” tanya Dian perhatian.

“Oh gw lagi banyak kerjaan Di, tapi gw udah minta ijin sama dosen kok tenang aja” kataku dengan nada ceria.

“Kenapa lo juga nggak bisa dihubungin?” tanya suara laki-laki secara tiba-tiba.

“…Farel?” tanyaku gugup.

“Ya..kenapa lo ngindar dari gw?” tanya Farel semakin ngebuat Raka deg-degkan.

“..Gw kerja keras Rel, biasa shift tambahan temen gw ada yang keluar jadi gw gantiin shift dia” kataku berbohong.

“Bagas, Tami, Rio, Cindy semua masih kerja disitu kok kemarin gw udah check…siapa yang lo gantiin shiftnya?” tanya Farel mendesak. “Apa lo cuma ngehindar dari gw karna Fina?!” kata Farel lagi.

“…Bingo,…” batin Raka.

“Denger masalah ini harus diselesaiin…besok lo gw minta dateng keacara ulang tahun Fina di rumahnya…lo tau rumah Fina dimanakan Ka?” tanya Farel kembali.

“Ya” jawabku singkat.

“Ok, gw tunggu lo, gw harap lo gentlement dan mau nyelesaiin semua masalah ini…PAHAM lo..TEET!” kata Farel seraya mengakhiri telephone.

“AMIN…ini baru yang namanya masalah………….masalah yang besar, sebesar gunung…….Bagus Raka lo udah masuk perangkap, besok lo bakal dipanggang sampe hangus” kata Raka lemas.

Hari pemanggangan Raka sudah tiba, mungkin ini sama saja awal Raka ketemu Fina, penuh kejutan dan teriakan. Dan sekarang juga penuh kejutan dan teriakan, Raka membayangkan banyak orang-orang yang siap menghakiminya tanpa ampun seperti tikus got.

“Hari ini hari kematian gw…maju Raka menuju kuburanmu!!” kata Raka menyemangati dirinya dari cermin. “Buu…Raka pergi kekuburan Raka dulu ya Buuu…Raka pulang malam, jadi jangan nunggu-nunggu makan Raka ya…dagh” kata Raka ngeloyor pergi.

“Ka…kamu mau kekuburan siapa?” tanya ibunya dari arah dapur samar-samar.

“Selamat datang pada tamu-tamu malam hari ini, terima kasih untuk kedatangannya, untuk dari itu silahkan menikmati hidangan yang telah kami sediakan” kata MC malam itu.

“Fin Raka udah datang belum?” tanya Dian panik.

“Lo panik ya, emang mau ada apa di..dia datang kesini?” tanya Fina bingung.

“Oh…nggak..nggak apa-apa kok cuma tanya aja…ya udah gw mau kesana dulu..hihihihi..dagh…” kata Dian tertawa heboh.

“Dasar aneh!” respon Fina.

“Wah ternyata rame juga, untung gw nggak cuek-cuek banget pakaiannya…” kata Raka seraya menaruh helm motornya. “Hai, Di apa kabar?..hehe..aneh kayak kita nggak satu kampus aja ya Di” sapa Raka.

“Hehehe..iya elo sih jarang masuk, jadi canggung kan gw sekarang” balas Fina seraya menepuk pelan lengan Raka.

“Selamat Malam semua…malam ini adalah acara ulang tahun pacar saya yang tercinta…” kata Farel tiba-tiba. “Malam ini juga sekaligus sebagai pembuktian cinta kami berdua, tapi sebelumnya izinkan saya untuk bercerita sedikit tentang hubungan kami…awalnya saya sangat yakin bahwa Fina adalah wanita yang sengaja dicipkatan oleh Tuhan buat saya…” kata Farel.

“Farel…” ucap Fina pelan.

“Tapi saat ini saya baru sadar ada seseorang yang sudah terlebih dahulu diciptakan oleh tuhan untuk melengkapi cinta Fina, bukan saya melainkan….”

“…” Raka kaget dengan kata-kata Farel yang membingungkan.

“RAKA…teman saya, selamat ya Ka elo bisa bebas bahagiain Fina mulai dari sekarang” kata Farel seraya pergi kearah Raka dengan menarik tangan Fina.

“Rel lo apa-apaan?…lo.lo becanda?!” tanya Raka kaget setengah mati.

“Gw serius seratus persen serius, gw mau ngeliat Fina bahagia….sama lo bukan sama gw, gw rela kok Ka..” kata Farel seraya menatap mata aka dengan serius tanpa ada keraguan.

“Thanks ya Rel…lo emang temen gw yang paling pengertian..thanks bro” kata aka seraya merangkul Farel. “Fin…walaupun agak terlambat, kamu mau nggak jadi wanita pilihanku?” tanya Raka malu-malu.

“Iya,,Aku sangat-sangat mau sekali Raka” jawab fina tersipu-sipu.

“…” Raka memeluk Fina.

“Ka makasih ya kadonya” bisik Fina.

“Hah…” Raka melirik Farel, farel hanya memberikan kedipan mata sebelah kanan dan jempol tangannya. “Thank you!!” kata Raka tanpa suara.

“Rel ternyata Kamu lebih keren dari Raka ya” ucap Dian tiba-tiba, “UPS!! Aduh gw bego banget sih sampe ketelepasan gitu..” bisik Dian seraya menutup mulutnya dengan kedua tangan.

“Di masih mau nunggu gw buka hati nggak?” bisik Farel dikuping Dian tiba-tiba.

“…” Dian terdiam tersipu malu.

Full Coffee

Wuuuaaahhh!!!! Seger banget udara di Brazil. Wah!!! Biji kopinya udah kering Oia, namaku Keira sekarang ini Aku sedang berada di Brazil. Rencananya setelah Aku berhasil menjadi seorang barista, Aku akan pulang ke Indonesia. Saat ini Aku tengah menyelesaikan tugas akhirku sebagai barista, yaitu membuat kopi unik dengan rasa nikmat. Dan meracik kopi kedalam secangkir gelas cantik emang nggak mudah, butuh keahlian khusus untuk bisa mendapatkan aroma yang pas. Bukan hanya keahliannya saja tapi juga diperlukan bahan-bahan yang baik pula, dan beruntungnya Brazil adalah penghasil kopi terbaik. Aku suka ketempat tempat yang menyuguhkan kopi nikmat, di Brazil ada salah satu kedai kopi dekat perempatan jalan dan terkenal dengan kopinyayang nikmat.

Hhhmmm!!! Smells god!! Ini pasti udah kering, angkat dulu deh daripada makin tambah kering.

”Eonni (kakak)!!! Selamat pagi” sapa seseorang dari sebelah pagar.

“Eeh, Yoona…Pagi!!!” sapaku kembali.

Yoona adalah tetanggaku, dia juga sekaligus teman setanah air. Yah walaupun dia tidak asli-asli banget orang Indonesia, ada turunan korea. Dia disini setahun lebih muda dariku, tapi dalam hal meracik kopiYoona juga tidak kalah jagonya dariku.

Eonni (kak) udah kering biji kopinya?”, ”Oia nanti siang katanya Kakak mau pulang ya ke Indonesia?” tanyanya kembali.

“Iya. He..he..he…iya itu juga klo udah berhasil percobaanku” kataku.

“Aku pasti bakal kangen sama kakak” rajuknya.

”Maen-maen dong ke Indonesia, katanya cinta Indonesia?” godaku.

“He..hehe” tawa Yoona mengembang, “Aku maunya juga pulang ke Indonesia, tapi di Korea masih ada Appa (ayah) sama Oppa (kakak laki-laki) jadi harus mampir kesana dulu, tahun ini deh Aku mampir!” kata Yoona semangat.

Dasar wanita muda semangatnya kelihatan membara banget, nggak kayak Aku udah mulai layu. Waduh gawat!!! Oleh-oleh pesenan Mama belom Aku beli, mati nih gw!!! Lagian Mama ada-ada aja nyuruh beliin gantungan kunci bentuk khas Brazil, padahal di Blok M juga banyak tuh gantungan kunci. Kenapa harus jauh-jauh ke Brazil cuma buat nitip gantungan kunci?!

Eonni…mau kemana?? Biji kopinya kok ditinggal?? Bukannya ujian akhir testnya sore ini ya eonni??” tanya Yoona bertubi-tubi.

”Ooh, iya Aku mau beli gantungan kunci dulu buat oleh-oleh Mama, cuma sebentar kok!!”, Aduh bego Kei!!! Kenapa terlalu jujur begitu sih, ntar yang ada gw malah dibilang kampungan lagi pergi ke Brazil selain belajar juga jadi pemungut gantungan kunci, aaggh!!!

”Eonni gantungan kunci yang kayak gini bukan?” tanya Yoona sambil memperlihatkan gantungan kunci berbentuk topi.

Aku terperanjak, ”Iya yang seperti begitu!!” jawabku spontan.

”Ya udah nih….ambil aja”, ”Lagian kalau sama Aku jadi nggak ke pake”

”HaH!! Bukannya itu gantungan kunci yang penting buat Kamu?”

”He..he..Appa udah sering hadiahin Aku ini, jadi masih banyak lagi pula juga pintu kamarku cuma satu jadi buat apa gantungan kunci itu” kata Yoona menjelaskan.

”Oh, gomaweo dongsaeng (terima kasih adik)…”, ”Ha..ha..ha” tawa kami berdua refleks.

Fuuugh!!! Ujian jadi barista terkenal memang nggak gampang hampir saja Aku gagal gara-gara buat kecerobohan menuangkan air didihan untuk biji kopi yang sudah diolah. Tapi untunglah bisa diselamatkan, malam ini menjadi malam terakhirku di kota Brazil. Kami para barista yang sudah dinyatakan lulus mengadakan pesta perpisahan, Yoona juga ikut serta dalam acara itu. Sungguh suasana yang tidak dapat dilupakan, angin Brazil yang sejuk serta ditemani oleh secangkir latte panas.

”Maaaaa!!!!” panggilku pada ibu-ibu setengah baya.

”Duh Kei, Kamu kok kurusan??…..pasti makannya asal-asalan nih!! Liat kulitnya tambah pucet!!!” hardik Mama.

”Iih!!!! Mama Aku kan baru aja dateng masa udah dikomentarin masalah kulit!!” kataku seraya memajukan bibir.

Jakarta siang itu seperti biasa terlihat sangat ramai, kemacetan terjadi disana-sini. Aku berada didalam mobil hitam, Aku melihat sebuah kios dikawasan kemang saat sedang menuju kearah rumahku. Apa gw buka kedai kopi aja yah?? Kan sayang klo keahlian gw dalam meracik kopi nggak digunain, udah sekolah jauh-jauh masa ujung-ujungnya kerja kantoran lagi!!! Uups, sorry bukannya menghina, tapi ini karena kebiasaanku tidak suka dalam sebuah ruangan tertutup selama 9 jam, makanya bukan karena Aku benci loh!!!

”Ma, rencananya Aku mau buka kedai kopi kecil-kecilan nih…bolehkan?” tanyaku meminta izin.

”Boleh tapi jangan terlalu cepat, Kamukan baru aja pulang” usul Mama.

”Ok” jawabku singkat.

Sudah sebulan ini Aku berada di Jakarta, udara dan jam disini benar-benar membuatku kaget.

Krriiing!!!!!!! Haduuh, berisik banget sih tuh beker nggak tau apa semalem gw begadang ampe subuh!!!! Kleek! Nah dah beres nggak berisik lagi sekarang. Gw tidur lagi deh, masih ngantuk! Tiba-tiba ”Mampus!! Hari inikan pembukaan kedai kopi gw!”, ”Aagh!! Padahal mata gw masih ngantuk, mau nggak mau harus bangun” kataku malas-malasan.

”Bos, gimana dekor ruangannya ok kan?” tanya pegawaiku Berry.

”Hhmm, lumayan…” kataku menganggukkan kepala.

Senangnya hari ini resmi Aku membuka sebuah kedai kopi, dengan dekor ruangan yang ternyata cauzy. Dan yang paling Aku tidak sangka pengunjung pembukaan kedai kopiku sangat ramai. Hebat banget lo Kei dalam urusan perekrutan karyawan, semua yang bekerja disini memiliki kepopuleran yang beragam bagi kaum hawa. Ha…ha…ha…ha!!!! Berry bertampang bule, Kent cool banget, Rezi cowok berwajah manis, dan Aku sendiri cewek cantik barista dunia.

”Keira ada fans lo yang ngeliatin lo tuh dari tadi diluar!!” kata Kent judes.

Keira menoleh kearah orang yang ditunjuk Kent,”Ooh, lo iri yah Kent!!..hehehehe” ledekku.

Ngapain sih tuh orang ngeliatin apa jangan-jangan mau ngelamar gw yach?! Atau mau kenalan dulu baru abis itu langsung lamar gw?!.

“Jangan mikir yang macem-macem dulu ya lo!!” celetuk Kent kembali.

Buset!! Nih orang Jepang tau aja apa yang gw pikirin. ”Mau apa yah tuh orang?”, ”Gw samperin aja deh” kataku seraya menghampiri.

”Ada yang bisa saya bantu?” tanyaku basa-basi, ”Byur!!!! Segelas kopi latte membasahi tubuh Keira. ”What!!!! Are you crazy?!” pelototku kaget.

Sileo! (nggak)” ucapnya singkat, “Neo (kamu)…klo nggak bisa bikin kopi jangan maksa buka kedai kopi!!!” ucapnya sekali lagi seraya beranjak pergi.

Anjriiit!!!! Siapa lo berani nyirem gw!!! Siapa sih tuh orang, belom tau apa klo gw tuh barista dunia?!! Ngeselin banget tuh orang, lebihngeselindari pada Kent!!!

“Kamu kenapa Kei dari pulang tadi mukanya ditekuk terus?” tanya Mama penasaran saat dimeja makan.

“Itu Ma, ada pengunjung yang kurang ajar, nyirem Keira pake kopi!!” eluh Keira.

”Hehehe, terus kamu tahu kenapa dia begitu?” tanya Mama kembali.

”Nggak” jawab Keira polos. Wah ada benernya juga tuh pertanyaan Mama, kenapa tuh orang buat begitu yah?! Harus gw selidikin.

”Pagi Bos” sapa Berry, ”Pagi Kei” sapa Rezi dengan nada playboynya.

“Pagi semuanya” sapaku balik, Aku melirik Kent. Hegh!!! Percuma nungguin tuh anak ramah sama gw, klo tuh anak ramah sama gw bisa-bisa hujan berwarna. ”Gimana persiapan antar kopi ke kedai pelanggan kita?” tanyaku.

”Bos ada yang ngelamar jadi pegawai” kata Berry tiba-tiba seraya menunjuk kearah seseorang diluar kedai.

Aku menghampirinya, ”Permisi…”

”Tolong pekerjakan Aku ya?!” potong orang itu tiba-tiba.

”Apa?!” kataku kaget. Anak ini lucu, usianya mungkin diatasku dua tahun, dari tampang ok struktur fisik juga menunjang, keliatannya juga pekerja keras. ”Bisa liat berkas-berkasnya?”.

”Ini”, ”Aku bisa apa aja, tenagaku juga kuat, tapi klo masalah ngeracik kopi Aku nggak bisa” katanya nyerocos.

”OK, Joon hari ini langsung kerja, bisakan?!” tanyaku mengagetkannya. Aku menunggu reaksinya, ”Baik disana ada tempat ganti pakaian seragam, tugasmu membersihkan sampah-sampah saja, Ok?” tanyaku sekali lagi.

”Iya, makasih ya Bos!!” teriaknya senang.

Karyawanku bertambah satu, udah gitu tidak kalah menarik dari karyawan-karyawanku sebelumnya. Memang sih agak sedikit ceroboh tapi Jadi menghemat tenaga buat cari karyawan yang punya tampang ok. Hehehe…waktunya mengantar kopi.

”Joon kamu ikut denganku mengantar kopi, sekalian bawa kopi-kopi yang akan diantar” teriakku seraya berjalan kearah mobil.

Joon mengikuti semua perintahku. Selama dalam perjalanan kulihat Joon hanya terdiam melihat kios-kios makanan yang kami lewati. Kenapa nih anak diem aja, bukannya tadi nih anak hiperaktif?! Apa cuma buat menarik simpatiku buat menerimanya jadi pegawaiku.

”Bos lagi berpikiran yang macam-macam ya?” tebak Joon.

Hah! Kok dia bisa tau gw lagi mikirin tuh anak, ”Cepet turun udah sampe!!” perintahku. Joon mengikuti perintahku, dia turun dengan sekantung biji kopi yang sudah dipesan.

Setelah pengangkatan pegawai baru-baru ini, pengunjung yang menyiramku sudah tidak pernah terlihat lagi. Apa dia takut ya?! Hehe..belom juga Keira beraksi udah segan duluan. Tapi buat apa Aku peduli sama pengunjung yang satu itu, harusnya Aku fokus sama hasil penjualan biji kopi pesana dan penjualan kopi dikedaiku yang sudah mulai mengalami peningkatan pesat.

Mengenai para pegawaiku semuanya mulai terbiasa satu sama lain, termasuk Joon. Dia juga mulai ada peningkatan banyaknya hal yang dibicarakan denganku saat mengantar biji kopi pesanan. Dan yang baru aku ketahui dia itu ternyata keturunan dari Korea, Aku jadi teringat Yoona tetangga terbaikku selama berada di Brazil.

”Bos ini apa?” tanyanya pada sebuah benda.

”Ooh ini gantungan kunci dari Brazil, sebenarnya ini oleh-oleh dari temanku” kataku pelan teringat Yoona.

Loh kenapa tuh anak malah keliatan sedih ngeliat gantungan kunci yang dikasih Yoona? Apa dia kenal sama Yoona. ”Kenapa suka?” tanyaku.

Annyi (tidak)” jawabnya masih dalam wajah sedih, ”Dulu saya pernah sekolah di Brazil” katanya dengan mengubah mimik muka tiba-tiba.

”Oh ya!!” kataku spontan.

”Hey Joon cepat kesini, ada banyak sampah-sampah yang harus dibersihkan!!!!” teriak Rezi.

”Baik” jawab, ”Bos Saya kebelakang dulu…” katanya seraya pergi.

”Bos…kenapa? mau Saya buatkan secangkir latte??” tanya Berry mengagetkan.

Aku hanya menggelengkan kepala. Aneh! Joon sering banget bertingkah aneh, klo gw rasa apa sebelumnya kita udah pernah ketemu? Tapi kapan, apa pernah papasan waktu di Brazil? Aagh! Masa sih ada kejadian yang kayak gitu, macam film-film Korea aja. Tapi klo dari mimik mukanya ngeliat gantungan kunci Yoona dia kayaknya ngerasa sedih banget. Keira! Stop mikiran yang bukan buat dipikirkan!

”Berry! Satu pesanan hot latte” teriak Rezi, ”Berry!!! Ish, kemana sih tuh anak” omel Rezi gusar.

”Mungkin dia lagi dikamar mandi!” kata Kent tenang.

”Satu hot latte, special edition with chocolate stick” kata Joon tiba-tiba keluar dari dapur.

Rezi ternganga melihat hot latte buatan Joon yang tidak kalah menariknya dari buatanku, ”Ini-ini…lo yang buat?” tanya Rezi.

”…” Joon menganggukkan kepala.

”Astaga!! Ternyata lo nggak kalah hebat dari barista Bos?!”, ”Bos-Bos….Bos Joon sudah ada kemajuan!!” teriak Rezi girang.

”Kemajuan paan?” tanyaku heran, Aku melihat kearah gelas cantik yang berisikan hot latte buatan Joon. Hah! Darimana dia belajar menghias latte? Setau gw hanya barista Kwon J.Sung yang bisa buat hiasan latte bentuk angel. Sejago-jagonya barista paling cuma bisa buat yang standar-standar aja. ”Dari mana Kamu belajar bikin hiasan angel?” tanyaku menyelidik..

”Waktu Saya di Brazil saya sempat diajarin sama temen yang juga barista” jawab Joon gugup.

”Diajarin sama barista dunia Kwon J.Sung?” tanyaku sekali lagi.

”Iya” jawab Joon diikuti anggukan kepala.

”Hah!! Setau gw belom ada yang pernah ketemu sama barista Kwon J.Sung” kataku pelan, ”Ya sudah kembali bekerja!” perintahku.

Dalam perjalanan pulang kerumah Keira memikirkan tentang pengakuan Joon tadi. Kok gw ngerasa ada yang aneh ya sama Joon! Mulai dari mukanya waktu ngeliat gantungan kunci yang dikasih Yoona, terus kata-katanya klo dia pernah diajarin sama barista dunia Kwon J.Sung. Dan yang paling nggak masuk akal, dari semua barista yang sekolah di Brazil belum pernah ada yang ketemu sama barista Kwon J.Sung langsung.

Jangankan orang lain, gw aja nggak ketemu waktu ujian terakhir. Kenapa tuh bahlul satu gampang banget ketemu sama barista Kwon J.Sung. Idih! Gw jadi bingung, hubungannya apa ya antara Joon sama barista Kwon J.Sung. ketika Keira sedang berusaha keras memikirkan jawabannya Keira melihat sosok Joon sedang berjalan kesebuah apartemen yang mewah.

Hah! Kejutan apalagi nih, bukannya tuh anak bilang kerja di kedai gw itu buat bayarin utang bokapnya! Tapi keliatannya dia bukan bangsa orang yang terlibat hutang yang banyak deh. Gw buntutin aja deh daripada gw mati penasaran.

Keira mengikuti Joon dari jarak yang lumayan cukup jauh, dengan cara mengendap yang sudah lumayan terlatih.Apa dia Cuma nganterin pakaian aja ke sini, dia bilangkan dia harus kerja keras, hutang bokapnya segudang?!

”Maf numpang tanya apa ada penghuni apartemen ini yang bernama Joon?” tanya Keira pada resepsionis.

”Yang bernama Joon tidak ada mbak” jawab resepsionis.

”Oh begitu yah, makasih ya” kata Keira lega, tiba-tiba ”Eh klo yang bernama Kwon J.Sung ada nggak mbak?” tanya Keira sekali lagi.

”Ada, di lantai 5…number 118” kata resepsionis dengan senyum.

“Makasih ya” jawab Keira langsung ngacir.

Ini dia lantai 5, kamar 118 mana? Kanan apa kiri nih?! Kanan aja deh dicari dulu, ntar klo nggak ada yang kiri. Hehehe…gw udah kayak detektif profesional aja. ”Ini dia kamar barista Kwon J.sung” kata Keira didepan pintu kamar 118.

”Tok-tok-tok”, ”Permisi…” suara Keira.

”Siapa?!” tanya seseorang dari arah dalam kamar.

Cleaning service..” kata Keira bohong.

”Ckleek” pintu terbuka, Keira masuk kedalamnya. Ruangan pertama yang dilihat adalah ruang tamu yang ditata dengan gaya eropa dan dihiasi bunga lily yang segar, Keira sampai bisa mencium aroma kesegarannya. Ruangan selanjutnya ada ruang makan yang sangat nyaman. ”Hgh-Hgh! Aroma kopi hangat” kata Keira seraya mengendus-ngendus. Keira memutuskan jalannya kearah dapur.

”Joon ternyata dia…”, Keira menengok kearah foto yang terpampang ”Barista Kwon J.sung!!!” kata Keira kaget. ”Jadi lo-lo barista Kwon J.Sung” teriak Keira pada Joon yang sedang menghias kopinya.

”Keira!!!! Ken..kenapa ada di apartemen gw?!” tanya Keira kaget.

Ternyata barista idola gw malah bekerja di kedai kopi mungil gw, dan yang nggak gw sangka dia Oppa-nya Yoona. Tetangga terbaikku selama berada di Brazil. Pantesan aja waktu ngeliat gantungan kunci gw yang dikasih Yoona muka Joon berubah sedih. Dia teringat karena Yoona sedang berbaring dirumah sakit sekarang. Dan rencananya kalau Yoona sudah sembuh dia akan ke Indonesia, karena Yoona sudah janji sama gw. Seharusnya sih janjinya untuk tahun ini tapi karna ada peristiwa ini jadi diundur.

Satu tahun kemudian, ”Joon!!! Ada pesanan hot latte satu!!!” teriak Rezi.

”Heh!!! panggil dia suami Bos!! Nanti lo bisa kena omel Bos” kata Berry memperingati

“Agh sudah mumpung Bos sedang tidak ada di kedai..” elak Rezi.

”Rezi, tadi bilang apa?!” tanyaku mengagetkan Rezi.

”Tidak” jawabnya singkat.

”Ngomong-ngomong Joon ada dimana…eh, maksudku barista Joon” kata Keira terbata. Rezi, Berry, Kent menunjuk kearah atas kedai dengan bersamaan.

”Ok” kataku langsung menuju sasaran.

”Kamu sedang apa disini?” tanyaku, ”Aku ganggu ya?” tanyaku kembali.

Joon menengok kearah Keira dan tersenyum, ”Sini…duduk disini” Joon menepuk pahanya menunjukkan Keira harus duduk dipangkuannya.

Keira mengikuti kemauannya, ”Ada apa pagi-pagi sudah seromantis ini?” tanyaku malu-malu.

”Buka ini” kata Joon seraya menyodorkan sebuah kotak berbentuk biji kopi lengkap dengan aromanya.

Keira menerima dan membukanya, ”Ini-ini cincin…”

“Kei kamu mau nemenin Aku minum kopi tiap hari, tiap jam, dan selalu ada disetiap langkahku?” tanya Joon seraya menatap Keira lekat-lekat. Keira tidak bisa berkata apa-apa hanya mengangguk kecil.

Oppa eoseo! (kak selamat)” Ucap Yoona diacara pernikahan Keira dan Joon.

“Bos, selamat ya….Aku terharu melihatnya” kata Berry berlebihan.

Kent dan Rezi hanya menepuk pundak Joon.

Akhirnya Aku menemukan kebahagiaan dalam sebuah biji kopi yang wangi. Terasa pahit, tapi juga menyisakan rasa manis dan bau aromanya harum sekali itulah kopi jiwaku.



“Mawar Bukan Tanaman Hias”

“Hai sweet…kamu baru bangun yah, maaf yah Aku tidak ada disisimu waktu kamu bangun. Tapi Aku puas semalam Kita bersatu. Miss you.

“Nona nanti siang ada rapat dengan kepala dewan pemegang saham”.

Yah beginilah kesibukanku, setiap hari setiap saat selalu saja disibukkan dengan urusan kantor. Disaat seharusnya masa remajaku diisi dengan sosialisasi dengan teman sebayaku, ini malah diisi dengan pertemuan orang-orang tua yang sibuk memperebutkan kekuasaan saham mereka.

“Jam berapa pertemuannya?” tanya Mawar.

”Jam 3 siang ini, habis itu Nona terbang ke Perancis naik jet pribadi dengan Ibu presdir untuk peresmian Hp terbaru” kata pengurus rumah tangga bernama Robert.

Lihat! Sama sekali tidak ada waktu bersantai-santai dalam keseharianku, bahkan untuk bernapas saja Aku harus diatur. Sedikit bercerita, Ayahku adalah pemilik perusahaan ternama. Produk-produk yang dijual perusahaan kami bergerak dibidang makanan, juga elektronik. Dan sedang mencoba dalam hal fashion.

Saat ini penjualan produk perusahaan kami adalah yang terlaris dipasaran Eropa dan akan merambah ke benua Amerika, jadi mau tidak mau Aku juga harus membantu keluargaku dalam menjalankannya. Tapi sebagai konsekuansinya Aku tidak memiliki teman, yah kaliankan tahu seorang pengusaha dituntut tidak memiliki teman.

”Nona apa ada jadwal yang ingin di cancel?” tanya Robert.

“Tidak!” jawabku pasrah.

Bukan masalah teman yang Aku khawatirkan, tapi masalah pendamping hidup. Aku takut Bunda akan ikut campur dalam urusan yang satu ini, soalnya dari yang Aku dengar rata-rata pernikahan anak para pengusaha terkenal sudah dijodohkan sebelumnya. Sedangkan prinsipku, pasangan hidupku ya Aku sendiri yang menemukan.

“Selamat rapat anda berjalan lancar” ucap Pak Tung seorang pemegang saham yang terkenal kelicikannya, “Anda sangat berbakat” sanjungnya.

“Terima kasih! Tapi kalau ini untuk meluruskan jalan kkn Anda, maaf Saya bukan orang yang tepat!” kataku ketus.

“Dasar bocah sombong!!!” makinya seraya pergi.

Dalam dunia pengusaha terdapat orang yang seperti ini, juga seperti itu. Banyak jalan-jalan yang tidak halal dipakai, jadi Aku sebagai pewaris tunggal perusahaan haruslah berhati-hati.

“Bunda” sapaku sopan.

Bunda orang yang tidak pernah tersenyum didepan orang lain, terkadang Aku merasa tidak pernah lahir dari rahimnya. Ada suatu perasaan aneh bila Aku berada didekatnya, seperti orang asing saja.

”Prok-prok-prok” tepuk tangan dari para undangan yang memenuhi ruangan.

Aku merasa aneh kenapa untuk sebagian orang kedudukanku membuat mereka iri, padahal seharusnya Akulah yang merasa iri dengan status kebebasan yang mereka miliki. Tapi ya sudahlah, fokus kembali ke kehidupanku.

”Setelah ini apalagi?” tanyaku pada Robert.

”Nona akan menghadiri acara amal untuk panti asuhan…juga ada beberapa proposal kontrak kerja yang harus di check” ucap Robert.

Akupun hanya bisa menjawab ”Iya”, ”Acara amal diadakan dimana?”

”Di Korea”, ”Dengan beberapa sajian tarian tradisional dan band-band papan atas” kata Robert sekali lagi.

Dia memang assitant pribadi yang pengertian. Dia tau kalau acara amal seringkali membuatku bosan, pernah pada waktu acara amal di London Aku tertidur pulas karena sangat membosankan.

”Kami selaku pengurus panti asuhan mengucapkan terima kasih pada Perusahaan Miracle’s yang telah berbaik hati menjadi donatur panti asuhan kami”

Sebetulnya Aku tidak mempermasalahkan acara amal ini, tapi yang membuat Aku mempermasalahkannya adalah Bunda terlihat sombong sekali saat dipuji didepan khalayak, dan ini terjadi setiap kali perusahaan kami mengadakan acara amal. Ini alasan kedua yang membuat Aku muak dengan acara amal.

Aku beranjak dari tempat dudukku, ”Kemana?” tanya Bunda dingin.

Rest room!” jawabku singkat.

Gila apa tuh orang-orang! Mau aja dikacungin sama nenek lampir, cuma gara-gara duit! Ini lagi nenek lampir sok baik! Padahal cuma pamri!, batin Mawar seraya berjalan.

Tiba-tiba Mawar berhenti, ”What are you doing?” tanya Mawar.

“Make toy”, “Do you like?” tanya pria itu didalam kerumunan anak kecil.

Maenan, duh handsome mana ada waktu gw buat maen, jangankan maen makan aja gw suka keteteran.

Mawar hanya menggelengkan kepala, “No I just see” jawabku masih menunduk menatap mainan yang ada ditangan pria itu.

“Andrew…”

What?” tanyaku kaget.

My names Andrew, you?” dia bertanya padaku.

“Mawar, just call me Mawar” kataku tersenyum ramah.

Okay Mawar see you” katanya seraya pergi.

He..he!! Dasar bule ajaib udah segede itu masih suka bikin maenan. Mawar nengok kanan kiri, ”Udah gitu dibagiin ke anak kecil!” kata Mawar tersenyum kembali.  Mawar memutuskan kembali ke dalam setelah selesai dari kamar mandi.

Waduh tuh nenek lampir udah melotot gede banget, siap nerkam gw kayaknya. Batinnya sambil tertawa kecil.

“Jreeng…jreng..jreng” alunan gitar classic terdengar, “Koriye nando ye sarang….” suara penyanyi tersebut.

Mawar ternganga mendengarkan lagu itu, walaupun dia tidak tahu apa arti dari lagu itu tapi dia tetap merasa ada sesuatu yang dalam hatinya. Seperti ada gelombang-gelombang yang naik turun seirama dengan dentungan senar yang bergetar.

Siapa yah orang yang main gitaris itu?” gumamku pelan.

“Namanya Alan, nona” jawab Robert dengan pelan disamping kupingku.

“…” Aku melirik kearah Robert.

Hah! Malu-maluin aja masa Robert sampai dengar, apa suaraku yang memang besar? Alah peretan sama suara, yang penting Aku udah tau siapa namanya. Thanks Robert. Weits tunggu tapi kenapa kalau Aku udah tau namanya, memangnya Aku mau jadian sama dia, inget Mawar kamu itu terlalu sibuk sama pekerjaan mungkin pacaran saja Kamu tidak akan bisa, karena jadwalmu itu padat, batin Mawar.

“Robert habis ini ada jadwal apalagi?” tanyaku dalam mobil.

“Anda akan bertemu dengan pemilik perusahaan Arai, di Starbucks” jelas Robert.

“Apa? Mana ada bertemu klien penting di Starbucks” kataku.

“Menurut rumor pemilik perusahaan Arai tidak suka suasana perkantoran ataupun gedung” kata Robert sekali lagi.

paling juga satu tipe sifatnya sama Bunda…selalu paranoid sama kalangan bawah” gumamku sangat pelan.

Setelah tiba di cafe Starbucks, Aku segera masuk kedalamnya. Tetapi ternyata diluar dugaanku. Ternyata tidak ada penjagaan super ketat seperti president, atau mata-mata pengintai disetiap kelilingnya. Atau bahkan membucking tempat karena presiden direktur mau datang ke sana, atau apalah yang selama ini selalu diidentikan dengan pejabat.

“Selamat sore Pak Arai” sapaku penuh sopan.

“Sore, maaf tapi saya bukan Pak Arai” kata orang itu.

“Hah! Maaf apa saya salah orang?” tanyaku ragu.

“Hhaha….tidak cuma Presdir lagi ada urusan jadi digantikan oleh saya anaknya, Alan” kata Alan yang masih menggenggam tangan Mawar.

“Oh…nah ini dia yang gw nggak suka…kayaknya topik ini akan mengarah keperjodohan!! Ternyata lebih dari dugaan gw, tuh nenek lampir ngirim anaknya cuma buat dibarter sama uang!! Setan!!” kataku.

Selama beberapa detik kami tidak saling bicara, hanya saling diam dan berpandang-pandangan. Sepertinya Aku kenal orang ini, tapi dimana ya? Apa di rapat dewan atau diacara amal tadi yah. Atau Aku yang pura-pura sok tau.

“Kenapa Kamu lihat? Apa Aku terlihat aneh?” tanya Alan tiba-tiba.

“Oh maaf tapi bukan maksud saya begitu, jadi bagaimana merger perusahan kita?” tanyaku mengalihkan.

“Maaf tapi hari ini Aku lelah bisa tolong temani Aku kesuatu tempat?” katanya lembut.

“Kemana?” tanyaku penasaran.

“Ayo ikut” katanya semangat seraya menarik tanganku keluar cafe.

Kami berjalan menelusuri pinggiran kota Korea, ini pengalaman pertamaku jauh dari para pengawal dan peraturan yang membelengguku. Sepanjang jalan kami ditemani oleh cahaya lampu jalan yang terang redup. Entah perasaan apa ini, Aku sungguh senang sekali, ingin teriak rasanya.

Alan ternyata juga bukan seperti dugaanku, seorang anak konglomerat yang bertingkah aneh, bukan Alan bukan seperti itu. Dia baik seperti anak kecil dan periang. Sepanjang jalan Alan menceritakan semua pengalamannya dan tempat-tempat yang kami lewati. Tapi kenapa para pengawal Bunda tidak mengikutiku, Aaagh mana ku taulah yang penting hari ini ada kebebasan sebentar untukku bermain.

“Lan tempat apa ini?” tanyaku heran.

“Ini tempat orang pacaran” katanya seraya mendekatkan wajah tampannya kearah wajahku.

“PLAK!!”, “Denger yah walaupun Aku mau diajak kamu keluar tapi Aku bukan wanita seperti itu!” teriakku keras.

“Hhahahahahahahaha……….” tawa Alan membahana disekelilingku.

“Kenapa ketawa? Ada yang lucu!” kataku masih dengan nada marah.

“Hehehe…Habis mimik mukamu lucu seperti anak SD yang akan iperkosa sih…hehehe” kata Alan yang masih sedikit tertawa, “Ini temtap melihat kota Korea dari ketinggian, Kamu belum pernah kesini yah..,berarti Aku orang pertama yang ajak kamu kesini dong, wah Aku beruntung nih” katanya masih dengan nada menggoda.

“…” Aku diam saja.

“Ayo masuk” Alan menarik tanganku.

Wah!! ternyata di Korea ada tempat sebagus ini, gantolenya bener-bener keren disini benar-benar bisa melihat kota Korea seutuhnya serta lampu-lampu yang menyinarinya. Alan benar-benar tau tempat-tempat terbaik dikota Korea.

Tunggu, tapi kenapa dalam gantole hanya ada Aku dan Alan saja. Gantole sebesar ini cuma ada Aku dan Dia doang, bisa bahaya nih.

“Lan memang ayahmu memperbolehkan kamu keluar seperti ini setiap hari?” tanyaku memecahkan kesunyian.

“Nggak, ini gara-gara kamu…aku tau tempat ini juga dari majalah dan semua tempat-tempat yang Aku ceritakan tadi….” kata Alan terhenti.

“Oh…berarti sama, memang seperti itu kali yah anak-anak orang kaya, makan minum, tidur, bernafas, bahkan pernikahannya pun di atur” kataku mengeluh.

“Hehehe….” Alan hanya tertawa simpul.

“GREEEK!!!” suara dari arah gantole, ternyata gantolenya berhenti.

“Hah!! Gimana sekarang nih” kataku seraya berlutut gemetaran.

“Tenang ada Aku disini, pegang tanganku saja” kata Alan lembut.

Mawar dan Alan melihat kearah seberang gantole mereka, ternyata didalamnya ada sepasang kekasih yang sedang berciuman dengan mesra. Tiba-tiba saja suasana jadi bertambah aneh buat Mawar. Mawar bergeser menjauhi Alan dengan pelan-pelan.

Dari pada Aku dilalap sama si anak usil, mending Aku mati gemetaran. Bisa-bisanya pemerintah menyediakan fasilitas seperti ini dan disalah gunakan oleh penggunanya.

“Kamu takut Aku berbuat macam-macam, tenang saja Kamu terlalu berharga untuk Aku” kata Alan pelan dengan mimik wajah memerah.

“KRAAAAAK!!!” “WUAAAAA!!!!!” teriakku kencang seraya langsung memeluk erat badan Alan.

Ternyata Alan tampan juga sebagai seorang exmud. Aduh entah apa yang ada dalam pikiranku. Tiba-tiba Aku mendekat kearah bibir Alan dan terjadi “Aaagh!!” gawat apa yang Aku pikirinkan.

“TEET-TEET-TEET!!” “Nona bangun sudah siang” suara Robert.

“Uagh…Robert dimana ini?” tanyaku seraya mengucek mata.

“Dihotel”

“Hah! Kenapa Aku bisa disini?” tanyaku tambah bingung.

“Semalam Nona habis menginap berdua sama tuan muda Alan” kata Robert.

“ASTAGA!! Kemana Alan?” tanya Aku gusar.

“Sudah pulang tadi pagi-pagi sekali, katanya tuan Alan ada urusan mendadak ini menitipkan surat” kata Robert seraya memberikan sepucuk surat.

Hai sweet…kamu baru bangun yah, maaf yah Aku tidak ada disisimu waktu kamu bangun. Tapi Aku puas semalam Kita bersatu. Miss you.

“Surat apa-apaan nih kayak gini doang….tunggu disini dibilang Aku puas kita sudah bersatu!….APAAAAA!!!!” teriakku memecahkan gelas beling.

Setelah kejadian itu Alan hanya menghubungiku lewat e-mail saja, entah apa yang sedang dikerjakan orang itu. Tapi Aku masih penasaran dengan kata bersatu itu, apa maksud anak itu. Apa aku sudah tidak..Aaggh..tidak mungkin Aku tidak merasakan apa-apa. Bahkan gejalah mual-mualpun tidak ada.

“Nona hari ini ada pertemuan dengan Presdir perusahaan Arai” kata Robert.

“Dimana?” tanyaku penasaran.

“Dikantornya” jawab Robert.

Asyik ketemu sama Alan lagi nih, mungkin dia memang jodohku. Tunggu!! Jodoh apa benar dia memang jodohku, atau hanya batu loncatan saja. Mudah-mudahan dugaanku itu benar, dia memang benar-benar jodoh yang dikirim Tuhan untukku.

“Selamat datang nona Mawar, saya Andrew Presiden Direktur perusahaan Arai…maaf kemarin saya tidak dapat hadir dalam pertemuan merger perusahaan kita” kata Andrew.

Hah! Jadi kemarin orang yang ertemu dan melakukan perbuatan gila bersamaku itu siapa” gumamku bingung, “Sedangkan dia ini adalah bule yang membuat mainan itu” gumamku sekali lagi.

“Kamu masih ingat sama saya, Toys?” tanya Andrew seolah tau yang ada dipikiran Mawar.

“I..iya, lama nggak ketemu yah Andrew…boleh Aku tanya kemarin Kamu utus siapa untuk bertemu dengan saya?” tanyaku ragu-ragu.

“Oh dia, Alan adik sepupuku, musisi terhebat yang pernah Aku dengar saat ini…kamu bertemu dengannya?” tanya Andrew penasaran.

“Iya, dimana dia sekarang ini?” tanyaku kembali.

“Dia sedang tour keliling Asia, mungkin tahun depan baru akan kembali atau dua tahun lagi…sepertinya Kamu tertarik dengannya..apa dia orang yang special?”

“…” Aku hanya diam.

Dasar Alan tak tau diri, datang sesuka hati pergi semaunya. Memang Aku ini dianggap apa. Bukannya memberitahukan malah menyembunyikan dariku. Memang siapa dia berani menyembunyikan ini dari Mawar.

Duatahun sudah setelah Mawar mendengar berita tentang Alan dari Andrew. Belakangan ini e-mail dari Alan sudah tidak ada. Mawar hanya bisa menunggu keajaiban apakah Alan benar-benar orang yang sudah ditakdirkan dengan dirinya.

Banyak kejadian selama duatahun ini yang terjadi pada diri Mawar. Mawar sudah menikah dengan orang pilihan ibunya, tapi ternyata suami Mawar mengalami kecelakaan pesawat saat menuju ke Thailand. Sehingga saat ini penampilan Mawar pun sudah berubah menjadi wanita dewasa yang bertanggung jawab.

“Maaf Nona besar ada tamu yang menunggu diluar” kata Robert.

“Siapa?” tanyaku.

“Katanya teman masa lalu” kata Robert sambil tersenyum simpul.

“…” Mawar diam membisu.

Mawar sungguh penasaran dengan senyuman Robert yang penuh arti. Apa ini berarti Alan, atau hanya tamu-tamu klien biasa. Mawar menuruni tangga darurat agar cepat sampai di ruang tamu kantor yang jaraknya lumayan jauh.

Sesampainya didalam ruangan ternyata tidak ada siapa-siapa, kosong. Mana tamu yang dibilang tadi sama Robert, apa ini hanya mengacaukan pikiranku saja. Apa sebenarnya cuma dugaanku saja. Kenapa Aku selalu saja cepat sekali menyimpulkan segala sesuatu, batin Mawar.

Mawar kembali berjalan keatas tempat kerjanya, dengan lesu dia kembali keruangannya. Mawar terhenti didepan pintu ruangannya sewaktu ia membuka pintu itu. Diam tak berbegerak.

“Alaaan!!…” kata Mawar seraya menghampiri Alan untuk memeluk.

“Kamu masih tetap Mawaku duatahun lalu, walau apapun yang akan merubahmu, kamu tetap sama dalam pandanganku” kata Alan disamping kupingku dengan lembut.

“Hiks..hiks…kamu kemana saja Aku kesepian selama ini..” kataku dengan air mata yang tiba-tiba mengalir.

“Sebenarnya setahun lalu Aku pulang ke Korea, tapi Aku mendengar Kamu akan menikah dari Kak Andrew jadi Aku takut bertemu Kamu dan menghilang ke Tokyo…maaf ya Aku terlalu pengecut jadi laki-laki” kata Alan seraya memeluk Mawar erat.

“Hiks..hiks..hiks..Aku mau kamu nggak kemana-mana lagi, kamu harus tetap berada disampingku” pintaku manja.

“Iya dengan senang hati princess” kata Alan tersenyum bahagia.

“BRAAAK!!!!” suara pintu terbuka tiba-tiba, “Sedang apa kalian!!!” kata Bunda marah.

“Bunda!…aku sayang sama Alan, Bunda tolong restui kami” kataku memberanikan diri.

“Apa!! Tidak boleh orang seperti itu tidak pantang menjadi pendampingmu Mawar” bantah Bunda.

“Bunda egois…dengar orang seperti ini adalah cinta pertama Aku…ANAK KANDUNGMU!!!” teriakku kesal.

“Mawar dengar dia tidak akan bisa membahagiakan Kamu” kata Bunda dengan nada tinggi sampai urat dileher Bunda terlihat jelas.

“Terserah Bunda tapi dia akan selalu menemani Mawar sampai Mawar mati, ayo Lan lari!!!” kata Mawar seraya menarik tangan Alan lari keluar ruangan.

“Mawar!! Kembali kesini…Mawar!!!!!” teriak Bunda samar-samar terdengar Mawar yang menjauh.

Astaga!! Ini adalah kali kedua Aku berbuat tanpa pikir rasionalku. Puas rasanya bisa memberitahukan perasaanku pada Bunda dan semua yang menentangku. Terserah pandangan mereka tentangku dan Alan, tapi satu yang kami tau kami akan selalu bersama dalam hal susah ataupun senang selamanya sampai ajal menjemput dan memisahkan kami berdua.

Setahun sudah perbuatan kawin lariku bersama suami keduaku, ini hal yang sangat membahagiakan dalam hidupku. Semua perasaan bahagia, sedih, bingung, dan takut ada didalam perjalanan hidup kami. Saat ini buah cinta kami akan lahir kedunia, aku saat ini juga sedang mengidap penyakit kanker rahim yang sudah stadium akhir.

Aku tidak akan merasa sedih karena ada Alan disampingku setiap saat, dan menjagaku dengan sepenuh hati. Setelah sebualn aku berjuang hidup akupun menghembuskan nafas terakhirku. Aku bahagia dapat pergi ditemani orang-orang tercintaku.

“Mah ini…cucu mama…” kata Alan pada Bunda.

“Mawar..sudah pergi menyusul Angga disana dia akan mengamati kita dengan tersenyum….” kata Alan seraya tersenyum simpul.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: